Madita Bekali Santri Praktik Fiqih Ubudiyah

Tidak ada komentar Share:
Santri Pesantren Zainul Hasan Menyimak Kajian Kaifa Tusholli kepada Non Ahsan Qomaruzzaman
Santri Pesantren Zainul Hasan Menyimak Kajian Kaifa Tusholli kepada Non Ahsan Qomaruzzaman

GENGGONG – Madrasah Diniyah Ta’limiyah (Madita) Zainul Hasan Genggong, tak hanya memberikan ilmu secara teori. Selama dua hari sejak Rabu-Kamis (13-14/4/2016), Madita menggelar pelatihan ibadah di Pesantren Zainul Hasan 2, Desa Tambelang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.

Kegiatan ini bertujuan memberikan bekal pada santri agar lebih paham masalah ibadah. Serta, tak hanya paham secara teori, tapi juga praktiknya. Ada beberapa fiqih ibadah yang diperdalam selama pelatihan itu.

Di antaranya, cara menghilangkan najis, wudlu’, tayammum, salat jama’-qosor, salat Jumat, pengurusan janazah dan talqin, serta prosesi akad nikah berikut khutbahnya. “Sangatlah rugi kalau tidak semangat dalam pelatihan seperti ini. Karena, pelatihan sebelumnya hanya fokus pada buku panduan sholat Kaifa Tusholli,” ujar Non Ahsan Qomaruzzaman, S.Pd.I., yang menjadi narasumber dalam pelatihan itu.

Menurutnya, pelatihan ini sangat penting, karena merupakan ilmu terapan yang dibutuhkan di masyarakat. “Kalian adalah calon generasi bangsa yang akan menggantikan posisi tokoh-tokoh masyarakat yang sudah lanjut usia. Siapa lagi kalau bukan kalian yang akan meneruskan perjuangan mereka?” ujarnya.

Penanggung jawab acara, Ustad Rosuli Zaid, M.Pd.I., mengatakan, kegiatan ini merupakan program tahunan Madita dalam tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kesiswaan. Tujuannya, meningkatkan dan memperdalam keilmuan yang telah dimiliki santri Madita. “Kegiatan ini mengaplikasikan keilmuan santri dalam bentuk praktik yang dipandu langsung oleh Non Aka (panggilan akrab Non Ahsan Qomaruzzaman),” jelasnya.

Sedangkan, K.H. Moh. Yusuf Ubaidillah, pengasuh Pesantren Zainul Hasan 2, berpesan pada santri untuk terus berkhidmah pada pesantren agar mendapat ilmu yang barokah. Bahkan, saat menjadi alumni harus tetap mengabdi pada pesantren. “Setelah lulus dari pondok, kita harus mengikuti kegiatan Tanaszaha, karena kegiatan itu untuk ‘memancing’ masyarakat tertarik pada Pesantren Zainul Hasan Genggong,” ujarnya. [] mfd

1.5/5 - (2 votes)
Previous Article

Peringati Hari Kartini, Ratusan Siswa TK dan SD Zaha Kompak Berbaju Adat

Next Article

Lanjutkan Tren Positif, Santri Genggong Kembali Raih Prestasi MSQ

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: