
GENGGONG – Film Tak Ingin Usai di Sini yang disutradarai Robert Ronny resmi tayang di bioskop se-Indonesia sejak 5 Juni lalu. Dibalik film yang diadaptasi dari film Korea Selatan berjudul More Than Blue tersebut, ada santri Genggong yang ikut berperan dalam film tersebut. Siti Aisyah, S.Sn. (25), perempuan asal Desa Condong, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo ini menjadi Unit Production Manager dalam film yang dibintangi Vanesha Prescilla dan Bryan Domani ini.
Perjalanannya tak biasa. Pada 2014, Aisyah mulai mondok di Pesantren Zainul Hasan Genggong. Selama 3 tahun berada di lingkungan pesantren, santri jurusan IPA itu tertarik pada dunia film. Ketertarikannya bermula saat diberi kesempatan ikut serta kegiatan prodistik, program unggulan MA Zainul Hasan 1 Genggong.
“Waktu itu aku mulai mengenal dunia film lewat kegiatan prodistik di sekolah,” ujarnya saat dihubungi melalui pesan Whatsapp, (10/06/2025) siang.
Dalam hal ini, PZH Genggong bukan hanya mencetak kader ulama tetapi juga talenta yang siap bersaing di sektor industri kreatif. MA Zaha 1 Genggong, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan pesantren, terbukti mampu menjadi titik tumbuh bagi potensi Aisyah.
“Siapa sangka, dari situ benih impian itu tumbuh,” kata alumni Institut Kesenian Jakarta tersebut.
Semasa kuliahnya, Aisyah mengambil jurusan sesuai minatnya, Film dan Televisi. Aisyah menjalani masa perkuliahan secara tekun dan bersungguh-sungguh. Di sela waktu menunggu sidang akhirnya, ia mengambil magang di Paragon Pictures. Tanpa disangka, magang itu membuka pintu rezeki. Sebelum dinyatakan lulus, ia justru dihubungi kembali dan ditawari pekerjaan paruh waktu. Karirnya terus menanjak dari paruh waktu ke probation, lalu menjadi karyawan tetap. Dari Production Assistant, kini ia dipercaya sebagai Unit Production Manager.
“Kadang saya sendiri tidak percaya. Seperti ada tangan tak terlihat yang membimbing setiap langkahku. Mungkin ini yang disebut barokah,” katanya.
Ia merasa sangat beruntung bisa bekerja bersama nama-nama besar di industri film seperti sutradara Robert Ronny dan produser Pandu Birantoro. Baginya, dipercaya sebagai UPM dalam proyek besar adalah kehormatan.
“Untuk saya yang masih junior, itu momen sangat mengharukan,” tambah Aisyah.
Aisyah mengingatkan bahwa santri tidak hanya bisa unggul dalam ilmu agama, tetapi juga berkarya di bidang lain. Pesantren bukan penghalang, melainkan tempat mengasah karakter dan keterampilan untuk meraih cita-cita.
“Intinya, kita semua punya mimpi. Jalani saja. Usahakan sekuat mungkin, jangan lupa doa, minta restu orang tua dan guru-guru,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih mendalam kepada Nun Ahsan Maliki, serta seluruh ustaz dan ustazah MA Zaha 1 Genggong. Menurutnya, bimbingan dan arahan guru yang ia terima semasa mondok sangat penting dan berarti.
“Tanpa bimbingan beliau, saya tidak akan bisa sampai di tahap ini,” ungkapnya.
Selain film ini, Aisyah juga sukses membantu produksi film Tainted Soul, The Most Beautiful Girl In The World, Losmen Bu Broto the series dan Love Ice Cream yang bisa ditonton melalui aplikasi Netflix dan aplikasi Vidio. (Kak)

