Mengenang 100 Hari Wafat Almarhum Kiai Saiful Islam

Tidak ada Komentar Share:

Pondok Darut Tauhid (DT), Pesantren Zainul Hasan Genggong Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menggelar peringatan 100 hari wafat Almarhum KH. Moh. Hasan Saiful Islam (Nun Bing), Senin malam (25/1/2021), Pukul 18.30 WIB di halaman pondok setempat.

Acara ini diisi dengan pembacaan Sholawat Nabi, Tahlil dan do’a bersama. Kakanda almarhum, KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah memimpin pembacaan tahlil pada acara tersebut. Tampak para jammah khusyu’ mengikuti rangkaian acara ini.

Nun Hassan Ahsan Malik, putra pertama almarhum mewakili keluarga Abna’ Saiful Islam dalam sambutannya mengaku acara ini merupakan wujud kebaktian pada ayahandanya. “Saya bersama adik-adik saya ingin menampakkan kebaktian pada abuya. Berbakti tidak hanya saat masih hidup, tapi juga saat sudah wafat. Dan ini juga mewujudkan keinginan almarhum saat menghadiri majlis. “Saya ingin didokan seperti ini juga,” ungkap Nun Alex, menirukan pesan almarhum semasa hidupnya.

Nun Alex, -begitu putra sulung almarhum Kiai Saiful Islam ini disapa- banyak bercerita manaqib (biografi) alamrhum. Menurut beliau, ayahandanya lahir pada 1 Agustus 1959, diasuh dan dibesarkan oleh KH. Hasan Saifouridzall di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong bersma dua saudaranya (alm. KH. Moh. Hasan Abdil Bar dan KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah).

Pada kesempatan ini, banyak keistimewaan almarhum semasa hidupnya diceritakan. Salah satunya, saat almarhum nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. Ceritanya saat beliau belum bisa baca kitab, tiba-tiba oleh salah satu ustadznya diminta mengikuti lomba baca kitab. Sementara asatidz yang lain tidak meyakini beliau akan mampu baca kitab pada lomba tersebut.

Lanjut Nun Alex, abuya kebingungan karena memang tidak bisa baca kitab. Akhirnya, beliau tawassul pada Rasulullah dan Kiai Hasan sepuh. Pada malam sehari sebelum lomba dimulai, beliau membaca surat Fatiah sebanyak 1000 kali. Dalam tidurnya, beliau bermimpi Kiai Hasan sepuh datang membawa handuk yang diludahinya, lalu handuk tersebut dioleskan pada lidah almarhum Kiai Saiful Islam. “Keesokan harinya, pada saat lomba beliau buka kitab, tau-tau kitab itu tampak ada harokatnya, jadi mudah dibaca,” terang Nun Alex. (fid)

Previous Article

Kuatkan Mutu Pendidikan, Yayasan Hafshawaty Gelar Pelatihan

Next Article

Terbit Buku Mahfudhat Fadlailul Iman, Ini Kata Kiai Mutawakkil Alallah

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: