Serukan Santri Banyak Berkhidmah Pada Seorang Guru

Tidak ada Komentar Share:

Ahbabul Mustofa di masjid jami' al-barokah genggong
Ahbabul Mustofa di masjid jami’ al-barokah genggong

Genggong – Hampir setiap tanggal 23 Ramadlan Pesantren Zainul Hasan Genggong kedatangan tamu rombongan Ahbabul Musthofa, Kraksaan, Probolinggo dalam rangka khotmil quran. Senin, (27/6/2016). di masjid jami’ Al-Barokah, pesantren setempat. Tampak hadir beberapa ashabul bait, Non. Moh. Hasan Maulana, Non. Ahsan Qomaruzzaman, KH. Ahmad Jazim Ma’shum dan beberapa habaib serta ratusan jamaah dari berbagai daerah.

Acara dimulai pukul 20:41WIB – 00: 06 WIB, diawali pembacaan surat-surat pendek dari ad-duha sampai an-nas, dilanjut pembacaan amalan khusus di bulan ramadlan yang dimulai dari surat al-qodar, qasidah-qasidah, istighatsah dan tahlil di astah Alm. K.H. Moh. Hasan. Jamaah sangat antusias mengikuti rangkaian acara tersebut.

Non. Diego -sapaan akrab Non. Moh. Hasan Maulana- dalam sambutannya, bercerita tentang kiai. Moh. Hasan yang tidak menolak kedatangan tamu seorang kompeni yang jelas-jelas bertujuan membunuh orang islam. “Pada saat itu yang menerima langsung adalah K.H. Hasan Saifouridzall, lalu dihaturkan pada kiai Sepuh,” kenangnya.

Non. Diego mendapat cerita ini dari abahnya, K.H. Moh. Hasan Saiful Islam dan beliau, Kiai Saiful Islam mendengar cerita tersebut dari K.H. Hasan Saifouridzall. “Nah kalau orang kafir saja sama kiai Sepuh diterima, apalagi Tamu Mulia, para habaib dan rombongan Ahbabul Mustofa pada acara khotmul quran pada malam ini?,” jelasnya.

Habib Abdul Qodir Ba’adu dalam pidatonya menjelaskan bahwa ketika seseorang santri berkhidmah kepada guru, meskipun tidak mencari ilmu, maka Allah sendiri yang mengajarinya. Beliau menyebutnya dengan ilmu ladunni seperti yang dialami salah satu alumni pesantren Zainul Hasan Genggong, Alm. kiai Mino, Kalikajar.

Habib Qodir menambahkan, santri dulu ilmunya banyak yang bermanfaat dan barokah. Sementara santri sekarang sebaliknya. Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Diantaranya; Kurangnya santri mengamalkan sunah-sunah nabi. Kurang sigapnya santri ketika diprintah guru, seperti menyapu, mencuci kendaraan guru, memasak di dapur. “Maka dari itu, kalau diprintah guru tidak usah ditafsiri lagi, dan harus menghormati sekeliling guru baik keturunan maupun santri-santrinya,” tegasnya.

Sementara itu, Habib Hasan bin Ismail Al-Muhdor dalam ceramahnya, mengungkap hikmah bulan suci ramadlan yang menurut beliau ada tiga keistimewaan dalam bulan tersebut, yakni tanggal 01sampai10 adalah rahmatun (kasih sayang), tanggal 11 sampai 20 adalah maghfirotun (Ampunan) sementara tanggal 21 samapai 30 adalah itqun minan nar (bebas dari api neraka).

Lanjut beliau, Tujuan ziaroh qubur adalah agar kita selalu mengingat kematian dan menjauhkan diri dari tipu daya dunia dan semangat untuk selalu mengingat akhirat. Habib Hasan menilai, ziarah pada orang-orang shaleh baik yang masih hidup di dunia atau hidup di alam barzah tujuannya untuk berkhidmah dan memberi rahmat kepada umat. “Karena auliya’ kaya pahala jadi tidak butuh pada doa dari kita, Akan tetapi dengan ziarah, berharap hajat kita dikabulkan oleh Allah,” pungkasnya (Mfd)

Previous Article

KELUARGA BESAR PESANTREN ZAINUL HASAN GENGGONG MENGUCAPKAN MOHON MAAF LAHIR BATIN

Next Article

K.H Muammar Kembali Meriahkan Lailatul Qiro’ah

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: