Shohibul Bait Rilis Ulang Logo PZH Genggong

Tidak ada Komentar Share:

GENGGONG – Logo dimiliki oleh sebagian besar institusi di berbagai belahan dunia. Logo berfungsi sebagai penanda, platform, ciri khas, serta pembeda dengan institusi lainnya. Demikian juga dengan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Logo pesantren yang berdiri pada medio abad 18 Masehi ini, dibuat pada medio 1950-an.

Logo pertama kali dibuat ketika PZH Genggong diasuh oleh K.H. Hasan Saifouridzall. Beliau yang menginisiasi pembuatan logo ini, tutur Kepala Biro Kominfo PZH Genggong Nun Hassan Ahsan Malik.

Nun Alex, sapaan karib ulama muda ini mengungkapkan, pembuatan logo ini melibatkan seorang santri Genggong bernama Kadar Shaleh asal Pulau Masalembu, sebuah kecamatan berbasis pulau di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

“Namun ide setiap detail logo ini berasal dari K.H. Hasan Saifouridzall. Beliau sangat detail kalau urusan seni. Membuat dan mendesain logo itu kan juga bagian dari seni. Nah, Pak Kadar Shaleh ini yang kemudian menggambar logo itu di atas kertas,” terang putra dari K.H. Mohammad Hasan Saiful Islam ini.

Begitu logo jadi, sejak itu PZH Genggong memiliki logo resmi, imbuh Nun Alex.

Logo resmi tersebut kemudian digunakan dalam segala urusan administrasi pesantren dan pendidikannya. Bahkan oleh K.H. Hasan Saifouridzall, logo ini juga disematkan di sejumlah bangunan milik pesantren. Baik di bangunan yang sudah maupun sedang dibangun.

“Di bangunan P5 (sebuah gedung pendidikan di lingkungan PZH Genggong), juga ada logo resmi itu. P5 dibangun ketika diasuh K.H. Hasan Saifouridzall,” ungkap Nun Alex.

Dalam perkembangannya, logo ini kemudian mengalami perubahan. Yang paling mencolok adalah perubahan tampilan bagian terluar. Perubahan tersebut terjadi sekitar tahun 1984-1985. Ketika itu, K.H. Hasan Saifouridzall melakukan penyesuaian bentuk logo.

“Awalnya, logonya berbentuk lingkaran. Namun oleh Beliau mengubahnya menjadi segi lima,” terang Nun Alex.

Nun Alex telah meminta petunjuk kepada K.H. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah, K.H. Mohammad Hasan Abdil Bar, dan K.H. Mohammad Hasan Saiful Islam terkait alasan perubahan bentuk logo tersebut.

“Alasan paling kuat masih belum kami temukan. Sebab ketika perubahan terjadi, Kiai Mutawakkil dan Kiai Abdil Bar sedang menuntut ilmu di Mesir. Abuya (K.H. Mohammad Hasan Saiful Islam) sudah di Genggong, namun beliau tidak begitu memperhatikan perubahan logo itu. Sehingga beliau bertiga tidak terang soal alasan perubahan logo pesantren,” ungkap Nun Alex.

K.H. Mohammad Hasan Naufal, pengasuh Pesantren Genggong menuturkan, ada beberapa sumber yang mengungkapkan perubahan logo itu paling nyata terjadi ketika peresmian Universitas Zainul Hasan (Unzah) sekitar tahun 1984-1985.

“Ada beberapa alumni angkatan pertama Unzah yang menyampaikan bahwa logo di Unzah bentuknya segi lima. Logo pesantren sangat mungkin juga berubah ketika itu,” terang putra dari K.H. Hasan Saifouridzall ini.

Kiai Naufal serta Nun Alex kemudian meneliti perubahan logo pesantren berdasar buku 150 Tahun Menebar Ilmu di Jalan Allah yang diterbitkan sekitar tahun 1989. Di buku tersebut, terdapat banyak foto logo di sejumlah lokasi di sekitar pesantren. Di buku itu ada beberapa tokoh, termasuk tokoh perempuan, yang berpidato di podium pesantren.

“Nah, di podium itu, ada yang logonya lingkaran, ada yang segi lima. Ada seorang tokoh perempuan berpidato dan di podium tidak ada logonya. Mungkin foto yang ini diambil ketika terjadi perubahan logo. Mungkin logo pengganti sedang dibuat sehingga belum sempat dipasang di podium. Tapi di foto itu terlihat jelas ada bekas logo berbentuk lingkaran,” terang Kiai Naufal.

Di sisi lain, di sampul buku 150 Tahun Menebar Ilmu di Jalan Allah terdapat logo berbentuk lingkaran. Selain di sampul, logo serupa juga dipasang di sejumlah bagian lain di buku tersebut.

“Percetakan pada tahun 1980-an tidak secanggih sekarang. Kemungkinan, penerbit menggunakan logo untuk buku itu memakai file lama. Yaitu logo lingkaran yang dipakai untuk mencetak buku sejarah pesantren yang terbit pada tahun 1975,” terang Kiai Naufal.

“Saya menduga penggunaan logo lingkaran di buku itu dilakukan karena alasan teknis. Sebab kalau memang berubah pada tahun 1984-1985, mestinya logo di buku itu sudah berbentuk segi lima. Buku itu terbit tahun 1989,” tutur Kiai Naufal.

Atas terjadinya perubahan tersebut, Kiai Naufal dan Nun Alex telah menghadap ke K.H. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah dan K.H. Mohammad Hasan Saiful Islam.

“Alhamdulillah beliau berdua telah menyetujui pembuatan logo resmi yang diperbarui. Bentuk logonya disesuaikan dengan logo yang dibuat oleh K.H. Hasan Saifouridzall,” ungkap Nun Alex.

Beliau menegaskan bahwa segala urusan administrasi kepesantrenan harus menggunakan logo resmi tersebut. Logo resmi juga harus dipasang di lokasi-lokasi strategis yang merepresentasikan PZH Genggong.

Nun Alex menerangkan, para alumni dan santri PZH Genggong harus berpedoman pada logo resmi yang hanya disediakan di website resmi PZH Genggong. Yakni www.pzhgenggong.or.id.

“Kami sediakan logo ini hanya di situs resmi. Bagi yang berkepentingan, bisa download di situs resmi PZH Genggong. Mari kita membiasakan diri mengikuti apa yang telah dibuat oleh K.H. Hasan Saifouridzall. Jangan keluar dari hal itu, imbau Nun Alex. (*)

Ditulis oleh : Abdur Rohim Mawardi
Ditashih oleh : Nun Hassan Ahsan Malik

Previous Article

Gelar Language Day, OSMAM Gali Potensi Santri

Next Article

Peringati Hari Aksara, SMP Zaha Ajari Warga Calistung

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: