Genggong – Suasana khidmat menyelimuti halaman Pondok Baitus Sholihin Pesantren Zainul Hasan Genggong pada Sabtu (20/6/2026) dalam rangkaian acara peringatan Haul Al-Marhum Al-Arif Billah KH. Sholeh Nahrawi, atau yang akrab disapa Nun Kalim. Acara yang bertepatan dengan 4 Muharram 1448 H ini dihadiri oleh para jemaah dari berbagai kalangan mulai dari santri, tokoh masyarakat, jajaran pemerintahan serta alumni dan simpatisan.
Menariknya, antusiasme tidak hanya terlihat dari para tamu undangan. Sesaat sebelum rentetan acara resmi dimulai, para santri tampak berbondong-bondong dan mengantri dengan tertib mengambil baki guna mempersiapkan konsumsi bagi para hadirin. Pemandangan ini menjadi bukti nyata semangat khidmat dan gotong royong yang tertanam kuat di lingkungan pesantren.
Lantunan Sholawat dan Pembukaan Khidmat
Rangkaian acara haul dibuka dengan lantunan syair dan Maulid Nabi yang dibawakan dengan syahdu oleh grup Hadrah Pondok Baitus Sholihin PZH Genggong. Suasana religius semakin terasa saat pembacaan ayat suci Al-Qur’an dikumandangkan oleh Nanda Zuhri, disusul dengan rangkaian pembacaan Yasin dan Tahlil yang dipimpin oleh para ulama, termasuk Habib Hadi Bin Jakfar Bin Syeh Abu Bakar Bin Salim dan KH. Khozin Irsyad.

Kisah Karomah KH. Sholeh Nahrawi dan Sang Ibunda
Puncak kekhidmatan acara terasa saat sesi pembacaan Manaqib KH. Sholeh Nahrawi yang disampaikan oleh KH. Moh Hasan Maulana (Nun Digo). Dalam penyampaiannya, Nun Digo memaparkan secara mendalam tentang hakikat karomah yang sering kali berada di luar jangkauan akal manusia, sehingga terkadang logika harus dikesampingkan sejenak untuk memahaminya.
Beliau memberikan contoh dari Al-Qur’an, seperti kisah Sayyidah Maryam yang selalu mendapatkan hidangan makanan meski berada di dalam kamar yang tertutup rapat. Selain itu, ada pula kisah Wali Allah di zaman Nabi Sulaiman A.S., yakni Ashif bin Barkhiya, yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Kota Saba (Yaman) ke Palestina hanya dalam sekejap mata. Hal-hal yang tidak masuk akal inilah yang menjadi bukti nyata karomah dan kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada para kekasih-Nya.
Salah satu pengalaman spiritual luar biasa yang dialami oleh Nun Kalim terjadi saat beliau menunaikan ibadah haji. Beliau mengalami musyahadah (tepanggi/bertemu) di alam ruhani dengan Nabiyullah Musa A.S. Dalam pertemuan tersebut, Nabi Musa A.S. merasa kesokan (sangat suka) kepada Nun Kalim karena dua hal: kebersihan hatinya, serta kesamaan julukan mereka, yakni Kalimullah dan Nun Kalim. Sebagai bentuk kenang-kenangan yang mulia, Nabiyullah Musa A.S. memberikan nama haji kepada beliau, yaitu Kiai Haji Sholeh Nahrawi.
Keistimewaan spiritual Nun Kalim juga tak lepas dari darah keturunan sang ibunda, Nyai Marfu’a, yang dikenal sebagai seorang ahli tirakat dan selalu lekat dengan Al-Qur’an. Nun Digo menceritakan sebuah momen luar biasa ketika Nyai Marfu’a sedang menanak nasi, lalu meninggalkannya sejenak untuk mendaras Al-Qur’an.
Saat beliau kembali dan membuka soblug (periuk nasi), betapa terkejutnya beliau mendapati isinya telah berubah menjadi emas. Bukannya gembira, beliau justru sedih (molar) dan memohon kepada Allah SWT.
“Bukan ini yang saya harapkan dari Engkau ya Allah… Saya ingin anak keturunan saya keradduh ke ajunan (dicintai oleh Engkau) ya Allah… Jadi anak yang sholeh dan alim,” doa beliau, yang di sampaikan oleh Nun digo.
Seketika itu juga, saat soblug dibuka kembali, emas tersebut telah berubah wujud menjadi nasi sedia kala. Dengan penuh rasa haru dan syukur, Nyai Marfu’a pun mengucapkan Alhamdulillah. Doa tulus inilah yang diyakini menjadi asbab lahirnya ulama besar sekelas KH. Sholeh Nahrawi.
Keistimewaan tokoh-tokoh Genggong juga pernah ditegaskan oleh KH. Hasan Saiful Islam, yang menyebutkan bahwa ulama yang mencapai derajat tajam kasyaf-nya (terbukanya tabir spiritual) di Genggong pada zaman itu adalah Nun Abdul Jalil dan Nun Kalim.

Ceramah Agama: Urgensi Akhlak Anak dan Percaya Karomah
Setelah sambutan dari perwakilan keluarga besar Gus dr. Moh Haris M.Kes dan tokoh masyarakat Jawa Timur Dr. Ali Mufti, S.Ag., M.Si., acara dilanjutkan dengan ceramah agama oleh KH. Ahmad Sibaweh.
Dalam tausiyahnya, beliau menitikberatkan pada dua poin penting: pentingnya pembinaan akhlak anak di era modern dan penguatan aqidah umat dalam mempercayai karomah para wali Allah. Beliau mengingatkan bahwa kisah-kisah karomah seperti yang dialami keluarga KH. Sholeh Nahrawi harus menjadi pengingat kebesaran Allah dan motivasi untuk terus mendidik generasi muda agar memiliki akhlakul karimah.
Rangkaian acara Haul KH. Sholeh Nahrawi ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Khozin Irsyad, meninggalkan kesan spiritual yang mendalam bagi seluruh hadirin yang memadati area Pondok Baitus Sholihin Pesantren Zainul Hasan Genggong. (jaka)

