
GENGGONG, – Suasana khidmat menyelimuti Pesantren Zainul Hasan Genggong pada Selasa (31/3/2026) pagi. Ribuan jamaah dari berbagai penjuru daerah memadati Masjid Jami’ Al-Barokah untuk menghadiri Haul Hadratussyaikh Al-‘Arif Billah KH. Moh. Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin.
Peringatan tahunan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mengenang kembali sosok ulama karismatik yang memiliki andil besar bagi bangsa dan negara sebagai tokoh Nahdlatul Ulama. Para jamaah hadir dengan penuh antusias, menadahkan tangan mengharap berkah dari sosok Waliyullah yang dikenal memiliki kedalaman ilmu dan karamah yang luar biasa.

Pembacaan Manaqib: Sosok Pecinta Ilmu
Pembacaan manaqib atau riwayat hidup Almarhum KH. Moh. Hasan kali ini disampaikan secara mendalam oleh Nun Hasan Ahsan Malik. Nun Alex, sapaannya, memaparkan sejarah keteladanan Kiai Hasan yang terlahir dengan nama Ahsan pada 27 Rajab dari orang tua yang shalih dan shalihah, yakni Kiai Syamsuddin yang gemar mengaji (muballigh) membimbing dan mengarahkan umat di berbagai daerah dengan pasangan istri yang Bernama Nyai Khadijah yang ahli tirakat. Kelahiran sang ulama ternyata telah diiringi isyarat langit; sang ibunda, Nyai Khadijah, sempat bermimpi menelan bulan saat mengandung Kiai Hasan.
Latar belakang keluarganya pun penuh kesahajaan. Ayahandanya, Kiai Syamsuddin, beserta sang ibu adalah perajin genting yang sangat gigih menyisihkan rezeki keringat mereka tidak hanya untuk kebutuhan dapur, tetapi difokuskan demi pendidikan agama anak-anaknya.
Ditinggal wafat sang ayah sedari muda, Kiai Hasan tumbuh menjadi pemuda yang mandiri dan sangat haus akan ilmu. Perjalanan intelektualnya membentang luas, mulai dari mengaji kepada pamannya Kiai Zainal Abidin di Genggong, berlanjut menempa diri ke Pojentrek Sukonsari Bangil, lalu lanjut mengabdi kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, hingga berjuang menempuh pelayaran panjang selama enam bulan menuju Makkah. Di tanah suci, beliau berguru kepada ulama-ulama besar, termasuk Syekh Nawawi Al-Bantani. Berkat kegigihannya, beliau berhasil menguasai 12 cabang keilmuan agama secara mendalam.
Nun Alex menekankan bahwa tingginya karomah Kiai Hasan bermuara dari kedalaman ilmu dan konsistensinya dalam menjalankan syariat. Ketinggian ilmu tersebut terbingkai indah dalam keagungan akhlaknya. Beliau dikenal sangat santun dan menghargai siapa pun. Bahkan ketika berbicara dengan anak kecil sekalipun, Kiai Hasan selalu merendahkan hati dan menggunakan tutur bahasa Madura yang paling halus (engghi-bhunten). Akhlak dan adab inilah yang menjadikannya sosok kompas moral sejati bagi masyarakat.

Acara inti haul diisi dengan ceramah agama oleh Wakil Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Zulfa Mustofa. Dalam mauidahnya, beliau mengupas kedalaman makna dari semboyan “Al-ilmu rahimun baina ahlih”, yang berarti kecintaan pada ilmu akan merekatkan para pecintanya layaknya ikatan saudara dan nasab. Beliau menegaskan bahwa sesama umat Islam, terlebih sesama warga Nahdliyin, tidak semestinya saling bermusuhan.
Beliau mencontohkan bagaimana Imam Syafi’i tetap menaruh penghormatan yang sangat tinggi kepada Imam Abu Hanifah meski terdapat perbedaan pendapat secara fikih. Menurutnya, perpecahan umat seringkali bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena godaan harta (al-mal) dan urusan perebutan pengaruh politik (siyasah).
Lebih lanjut, KH. Zulfa mengajak ribuan jamaah untuk menjadikan kombinasi keluasan ilmu dan keluhuran akhlak almarhum Kiai Hasan Genggong sebagai teladan hidup yang mulai langka saat ini. Beliau juga memberikan pesan motivasi yang kuat bahwa siapa pun umat Islam apa pun latar belakang profesinya baik itu petani, pedagang di pasar, hingga tentara bisa memiliki keturunan seorang ulama besar. Syaratnya adalah orang tua tersebut harus senantiasa memiliki kecintaan yang tulus kepada ilmu dan ulama, serta selalu mendoakan keturunannya di malam hari.
Rangkaian acara berlangsung sangat teratur. Diawali dengan pembacaan Yasin yang dipimpin oleh Habib Hadi Bin Jakfar Bin Syeh Abu Bakar Bin Salim, suara lantunan ayat suci menggema di seluruh area pesantren sebagai bentuk khidmat kepada ashabul haul.
Memasuki penghujung acara, pembacaan tahlil dipimpin oleh KH. Khozin Irsyad dan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh KH. Zulfa Mustofa.
Meski acara telah usai, semangat dan jejak perjuangan KH. Moh. Hasan Genggong dipastikan akan terus hidup di hati masyarakat. Haul ini kembali membuktikan bahwa kecintaan masyarakat terhadap ulama tetap kokoh sebagai pilar spiritual di tengah perkembangan zaman. (GN)