Kiai Hasan Saifouridzall Tidak Bisa Dibohongi

Tidak ada Komentar Share:
K.H. Moh. Hasan Saiful Islam saat menyampaikan manaqib K.H. Hasan Saifouridzall. Kamis (1/8/2019)

GENGGONG- Ribuan jamaah tumplek blek dalam Haul Almarhum Al Arif Billah K.H. Hasan Saifouridzall, Kamis (1/8/2019). Sejumlah karomah dan keistimewaan putra Almarhum Al Arif Billah K.H. Moh. Hasan, ini pun kembali diungkap. Salah satunya tentang keistiqomahan dan karomahnya yang tidak bisa dibohongi.

Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong K.H. Moh. Hasan Saiful Islam mengungkapkan, Kiai Hasan Saifouridzall merupakan hamba Allah yang sangat istiqomah. Tidak hanya dalam melaksanakan salat lima waktu, namun juga salat-salat sunah dan mengajar santri-santrinya.

Kepada santrinya, menurut Kiai Saiful Islam, Kiai Hasan Saifouridzall memgaku tak pernah meninggalkan salat wajib berjamaah sejak berusia 12 tahun. Serta, tak pernah meninggalkan salat sunah Duha berjamaah sejak berusia 15 tahun.

Tak hanya itu, ketika hendak melaksanakan salat Maghrib, Kiai Hasan Saifouridzall selalu sudah berada di masjid sejak sebelum Maghrib. Usai salat Maghrib, beliau tidak langsung turun dari masjid. Namun, masih menunggu usai salat Isyak. Di antara Maghrib dan Isyak, Kiai Hasan Saifouridzall mengisinya dengan zikir dan salat sunah.

Usai Isyak dilanjutkan dengan mengajar santri. Baru pukul 23.00, kiai yang dikenal sebagai singa podium ini menghadiri sejumlah pengajian umum yang diselenggarakan masyarakat di berbagai daerah. Sekitar pukul 02.30, Kiai Hasan Saifouridzall sudah kembali ke masjid mengimami salat tahajud dan baru turun dari masjid usai salat Duha.

Selain keistiqomahannya, banyak karomah yang dimiliki salah satu kekasih Allah dari tanah Genggong ini. Salah satunya, bisa mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain, sehingga tidak bisa dibohongi.

Suatu ketika, ada sejumlah santri asal Ponpes Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo, hendak sowan kepada Kiai Hasan Saifouridzall. Lima santri ini pun berangkat ke Genggong. Namun, sesampai di Genggong, Kiai Hasan Saifouridzall yang berada di lantai dua kediamannya, enggan menemui mereka.

Karena tidak sabar, para santri ini memilih pulang. Mereka kembali ke pondoknya. Sesampai di pondok, malam harinya salah satu dari lima santri itu, tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan kenapa Kiai Hasan Saifouridzall tidak mau menemuinya. Hingga sekitar pukul 02.00, dia duduk dan melihat sesosok lelaki masuk ke kamarnya sambil berkata; “Saya tadi tidak mau menemuimu, karena kamu tidak salat Subuh.”

Ternyata, sesosok lelaki itu Kiai Hasan Saifouridzall yang langsung menghilang usai menyampaikan alasannya tidak menemui tamunya. Sedangkan santri itu adalah Kiai Ahmad, kakak dari Kiai Mukhlisin, pengasuh Ponpes Curahlele, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember.

Usai didatangi Kiai Hasan Saifouridzall ke pondoknya, pagi harinya Kiai Ahmad langsung berangkat hendak kembali sowan kepadanya. Sesampai di Genggong, Kiai Hasan Saifouridzall berkenan menemuinya dan menyampaikan pesan; “Jangan bilang-bilang.”

“Karena dipesani jangan bilang-bilang, Kiai Ahmad tidak berani untuk bercerita. Tapi, setelah Kiai Hasan Saifouridzall meninggal dunia, baru Kiai Ahmad bercerita. Ini Kiai Hasan Saifouridzall, kalau saya, kabele-kabele (silahkan bilang). Biar diketahui, kalau saya wali,” ujar Kiai Saiful Islam dengan tawa khasnya dan disambut tawa jamaah.

Kisah lainnya juga diungkapkan Kiai Saiful Islam. Pada suatu ketika, di bulan Ramadan, Kiai Saiful Islam mengaku mendapati seorang alumnus Pesantren Zainul Hasan Genggong, sedang menunggu Kiai Hasan Saifouridzal selesai mengaji di aula. Setelah Kiai Hasan Saifouridzall usai mengaji, alumnus tersebut, terlihat berusaha meminta maaf dengan menjabat tangannya. Namun, Kiai Hasan Saifouridzall menolak.

Pemandangan ini terjadi mulai tanggal 1-13 Ramadan. Permintaan maaf alumnus tersebut baru diterima setelah masuk tanggal 14 Ramadan. Karena penasaran, Kiai Saiful Islam mengaku menemui alumnus tersebut dan menanyainya.

Menurut Kiai Saiful Islam, alumnus tersebut mengaku ketika hendak menunaikan ibadah haji beberapa bulan sebelumnya, ia sowan kepada Kiai Hasan Saifouridzall. Oleh beliau, alumnus tersebut diminta tinggal di Syeikh Aminrawa. Alumnus itu pun mengaku mengiyakannya.

Namun, sesampai di Mekkah, Arab Saudi, alumnus tersebut terpengaruh dengan jamaah lainnya hingga tidak tinggal di penginapan yang disarankan Kiai Hasan Saifouridzall. Ia juga sempat menyatakan, Kiai Hasan Saifouridzall tidak akan pernah tahu jika dia tak mengikuti sarannya. Maklum, saat itu belum ada media sosial, seperti Facebook ataupun WhatsApp. Bahkan, bila mengirim surat, baru bisa sampai pada 15 hari berikutnya.

Pada suatu hari ketika masih berada di Mekkah dan menjelang wukuf, alumnus tersebut bersantai di depan penginapannya. Saat itulah, pria ini mengaku melihat sesosok lelaki yang mirip Kiai Hasan Saifouridzall. Dan, ternyata memang Kiai Hasan Saifourridzall yang menghampirinya dan menyatakan; “Santri kurang ajar.”

Mendapati itu, alumnus yang diketahui bernama Kiai Marzuki, warga Kota Probolinggo, ini mengaku ingin cepat pulang. Setelah pulang, dia langsung ke Genggong untuk sowan dan meminta maaf kepada Kiai Hasan Saifouridzall. “Kiai Marzuki ini tawaduknya sangat tinggi kepada guru,” ujar Kiai Saiful Islam. (*)

Previous Article

Demi Kader Unggul, Militan dan Bertanggung Jawab, IPNU Hafshawaty Gelar Kajian Bulanan Aswaja

Next Article

Tangkal Radikalisme, IPNU Genggong Gelar Makesta

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: