Doa Kilat Kiai Moh. Hasan Genggong

K.H. Moh. Hasan Saiful Islam saat menyampaikan manaqib Almarhum Al Arif Billah K.H. Moh. Hasan. Sabtu, 15/06/2019.

Genggong: Ribuan jamaah memadati masjid dan halaman Pensantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Sabtu pagi (15/6/2019), kembali digelar Haul Al Marhum Al Arif Billah K.H. Moh. Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin.

Para jamaah yang merupakan alumni, santri, dan simpatisan Pesantren Zainul Hasan Genggong, dari berbagai daerah. Termasuk dari luar pulau, seperti Bali. Mereka kompak hadir pada haul yang rutin digelar saban 11 Syawal ini. Haul kali ini merupakan yang ke-66. Artinya, sudah 66 tahun K.H. Moh. Hasan meninggal dunia. Namun, sejauh ini jasa dan kenangan tentang beliau masih terus dikenang umat.

Banyak kisah menarik tentang Kiai Moh. Hasan. Termasuk karomah dan persaksian soal kewaliannya. Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong K.H. Moh. Hasan Saiful Islam dalam sambutannya menyatakan, Kiai Moh. Hasan merupakan wali qutub. Doa-doanya cepat terkabul, bahkan sejak masih mondok.

Ketika masih nyantri kepada Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan, Madura, Kiai Moh. Hasan pernah diminta beliau untuk berdoa kepada Allah SWT. Sebab, saat itu persediaan pangan di kediaman Kiai Kholil mulai menipis. Sedangkan, para tamu terus berdatangan.

Mendapati itu, Kiai Kholil memanggil Ahsan -nama kecil Kiai Moh. Hasan- dan disuruh memohon kepada Allah SWT., agar persediaan pangan di kediamannya bertambah. Dengan tawaduk, Kiai Moh. Hasan melaksanakan perintah gurunya.

Menurut Kiai Saiful Islam, demi memenuhi perintah gurunya, Kiai Moh. Hasan malam harinya tidak tidur. Memohon kepada Allah SWT., sebagaimana perintah Kiai Moh. Kholil. Keesokan harinya, kediaman sang guru kembali banyak tamu. Mereka datang silih berganti seakan tiada habisnya.

Sore hari, Kiai Moh. Kholil kembali memanggil Kiai Moh. Hasan. Namun, kali ini beliau memintanya menghentikan doanya. Sebab, gudang persediaan pangan sudah penuh. “Malamnya berdoa, pagi sampai siang, langsung banyak yang datang membawa beras, padi, dan sebagainya, sehingga lombung (gudang) penuh,” ujar Kiai Saiful Islam.

Tak hanya ketika masih mondok, saat sudah mengasuh pesantren, doa-doa Kiai Moh. Hasan tetap cepat terkabul. Suatu ketika, Kiai Moh. Hasan berkunjung ke kediaman Habib Husain di Desa Brani Wetan, Kecamatan Maron. Kebetulan, di jalan menuju rumah Habib Husain ada jembatan sempit yang hanya cukup dilintasi pejalan kaki.

Singkatnya, Habib Husain meminta kepada Kiai Moh. Hasan untuk didoakan agar diberi rezeki untuk membangun musala. Kiai Moh. Hasan pun berkenan. “Tidak hanya musalah, Kiai Sepuh (pangggilan akrab Kiai Moh. Hasan) juga menyatakan jembatan yang kecil itu, juga bisa dibangun dan bisa dilintasi mobil,” ujar Kiai Saiful Islam.

Keesokan harinya, dengan izin Allah SWT., menurut Kiai Saiful Islam, banyak orang yang datang ke rumah Habib Husain. Mereka ada yang membawa batu, pasir, semen, dan kebutuhan bahan bangunan lainnya. Sehingga, bahan-bahan yang terkumpul itu cukup digunakan untuk membangun musala, jembatan, bahkan rumah.

“Melihat itu, Habib Husain mengatakan, ini berkah Kiai Moh. Hasan. Cerita ini, saya dapatkan langsung dari Habib Husain,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah haul. (*)

3.4
11
Elsaif Faza: