
Dialektika Keserakahan dan Kepedulian: Harmoni Etika bagi Kemanusiaan dan Kebijakan
Dalam kajian antropologi dan psikologi sosial, manusia sering kali digambarkan hidup dalam ketegangan antara dua insting dasar: dorongan untuk menguasai (keserakahan) dan dorongan untuk memelihara (kepedulian). Sejarah peradaban manusia pada hakikatnya adalah panggung di mana kedua sifat ini saling bertarung dan bernegosiasi. Memahami anatomi keduanya bukan sekadar latihan intelektual, melainkan kebutuhan mendesak, terutama ketika seseorang dihadapkan pada amanah kekuasaan dan perumusan kebijakan.
Anatomi Keserakahan: Perspektif Kontemporer dan Teologis
Secara psikologis, keserakahan (greed) sering bermanifestasi sebagai ilusi ketidakcukupan. Psikoanalis Erich Fromm dalam karyanya To Have or To Be? menyoroti bahwa obsesi manusia modern pada mode “memiliki” (having) sering kali mengerdilkan esensi “keberadaan” (being). Ketika orientasi hidup bergeser murni pada akumulasi materi, kekuasaan, atau status, manusia kehilangan kapasitasnya untuk merasa utuh.
Dari kacamata teologis, Islam memberikan diagnosis yang sangat presisi mengenai watak dasar ini. Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاس وأنس بن مالك رَضِي الله عنْهُم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: لَوْ أَنَّ لابْنِ آدَمَ وَادِياً مِنْ ذَهَبِ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وادِيانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوب اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ » مُتَّفَقٌ عَليْهِ
Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhum bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Andaikata seorang anak Adam yakni manusia itu memiliki selembah emas, ia tentu menginginkan memiliki dua lembah emas lagi dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.”
(Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 6437 dan Muslim no. 1049)
Hadis ini secara empiris terbukti dalam berbagai krisis global saat ini mulai dari kerusakan ekologis hingga ketimpangan ekonomi yang mayoritas berakar pada eksploitasi tanpa batas. Keserakahan adalah entropi; ia menghancurkan keseimbangan sistem, baik sistem alam maupun sistem sosial.
Kepedulian sebagai Antitesis dan Penyeimbang
Jika keserakahan berpusat pada penarikan (taking), maka kepedulian (compassion) berpusat pada pemberian (giving). Dalam sosiologi kontemporer, kepedulian dipandang sebagai fondasi kohesi sosial. Tanpa adanya empati struktural, sebuah tatanan masyarakat akan runtuh ke dalam hukum rimba yang diistilahkan oleh Thomas Hobbes sebagai homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi sesamanya).
Agama meletakkan kepedulian bukan sekadar sebagai anjuran moral, melainkan pilar eksistensial. Konsep Rahmatan lil ‘Alamin adalah manifestasi tertinggi dari kepedulian universal. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ memberikan metafora biologis yang menakjubkan:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
[صحيح – متفق عليه – صحيح مسلم: 2586]
An-Nu’mān bin Basyīr -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam perilaku saling mencintai, kasih sayang, dan tolong-menolong di antara mereka seperti satu tubuh. Jika ada satu bagian tubuh mengalami sakit, maka sekujur tubuh ikut merasakannya dengan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”
(Sahih – Muttafaq ‘alaih – Ṣaḥīḥ Muslim – 2586)
Pendekatan religius ini sejalan dengan neurosains modern yang menemukan bahwa tindakan altruisme dan kepedulian secara aktif menyalakan pusat penghargaan (reward center) di otak manusia. Artinya, kita secara biologis dan spiritual memang dirancang untuk saling memelihara.

Ujian Kekuasaan: Melembagakan Kepedulian
Ketegangan antara keserakahan dan kepedulian mencapai titik paling krusial ketika ia bersinggungan dengan kekuasaan. Lord Acton, seorang sejarawan Inggris, pernah melempar adagium yang masyhur: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan memiliki kecenderungan alami untuk memperbesar ruang keserakahan jika tidak dibentengi oleh kesadaran spiritual dan etika publik yang kuat.
Bagi mereka yang dititipi amanah baik dalam lingkup institusi, masyarakat, maupun negara, kedua konsep ini harus menjadi alarm navigasi. Kebijakan publik pada hakikatnya adalah pelembagaan kepedulian. Sebuah regulasi atau kebijakan tidak boleh hanya diukur dari metrik pertumbuhan angka dan pembangunan fisik, tetapi harus diuji dengan pertanyaan mendasar: Apakah keputusan ini melindungi mereka yang paling rentan, atau sekadar memfasilitasi mereka yang sudah berpunya?
Memiliki kekuasaan tidak boleh melunturkan kepekaan. Justru sebaliknya, kekuasaan adalah instrumen paling efektif untuk memperluas jangkauan kepedulian. Ketika seorang pemimpin atau pemangku kebijakan memahami bahwa jabatannya adalah titipan (amanah) yang akan dimintai pertanggungjawaban secara transendental, maka ia akan menjadikan otoritasnya sebagai perisai untuk melindungi masyarakat dari keserakahan sistemik.

Khatimah
Dunia tidak akan pernah bisa sepenuhnya menghapus keserakahan, namun peradaban akan bertahan selama manusia terus merawat kepedulian. Di sinilah lembaga pendidikan, khususnya pesantren, mengambil peran sentral sebagai laboratorium moral mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki jangkar spiritual yang kuat.
Kita membutuhkan individu-individu yang ketika dihadapkan pada gemerlap dunia dan godaan kekuasaan, tetap mampu menundukkan keserakahannya dan memilih jalan kepedulian. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak yang berhasil kita bagikan dan selamatkan. (Ahmad)
