
GENGGONG – Pesantren Zainul Hasan Genggong secara resmi meluncurkan buku antologi berjudul Genggong yang Saya Kagumi: Dari Bunga hingga Simbol Peradaban dalam rangkaian Haflatul Imtihan ke-94 yang digelar pada Ahad (1/2/2026). Peluncuran buku ini bertepatan dengan peringatan 111 Tahun Literasi Genggong, bertepatan dengan 14 Sya‘ban 1447 H.
“Saya sangat bersyukur dan mengapresiasi penuh atas terbitnya buku ini. Kami. Mendukung penuh dukungan untuk budaya literasi pesantren dari tim Majalah Genggong ini,” dukung Ibu Nyai Hj. Idhom Ummi Athiyah, pengasuh pondok putri PZH Genggong.
Buku antologi tersebut memuat 41 artikel karya 35 penulis yang disusun dalam tujuh bab. Isinya mengulas beragam tema, mulai dari figur masyayikh, tradisi pesantren, literasi, pendidikan karakter, perkembangan pemikiran, politik maslahat, hingga relasi pesantren dan santri.

Pimpinan Umum Majalah Genggong, Nun Moh. Alwi Sholihin, menjelaskan bahwa angka 111 diambil dari penelusuran kitab tertua yang lahir di lingkungan Genggong, yakni Kitab Aqidatut Tauhid yang rampung ditulis pada 1336 H. Angka tersebut menjadi simbol kesinambungan tradisi literasi pesantren.
“Usia 111 tahun ini menegaskan bahwa Genggong tumbuh dan berkembang tidak hanya melalui tradisi lisan dan amaliah haliyah, tetapi juga melalui warisan tulisan,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Redaksi Majalah Genggong, Umarul Faruq, menyampaikan bahwa penulisan buku ini melibatkan para shahibul bait serta alumni senior yang memiliki ikatan historis dan emosional dengan Pesantren Genggong.

Menurutnya, buku ini tidak sekadar menjadi dokumentasi sejarah melainkan juga diharapkan menjadi rujukan pemikiran serta kontribusi nyata bagi penguatan literasi Islam dan pendidikan di Indonesia.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, Majalah Genggong juga membuka stan bazar buku bekerja sama dengan Turats Genggong. Bazar tersebut menampilkan berbagai karya tulis masyayikh Genggong dan literatur lainnya sebagai upaya memperkuat tradisi literasi pesantren di tengah dinamika perkembangan zaman. (Taufik)
