Pesantren, Produktifitas dan Sastra

Tidak ada Komentar Share:
belajar kitab kuning untuk mengarang kitab kuning
belajar kitab kuning untuk mengarang kitab kuning

Penyampaian (dakwah) melalui syair—atau yang oleh masyarakat Jawa lebih akrab disebut tembang—memang efeknya lebih mengena. Oleh karenanya, para wali songo terdahulu menggunakan metode suluk dan tembang yang diiringi musik tradisonal gamelan sebagai penyebaran Islam. Kini cara semacam itu masih terbilang efektif.

Salah satunya, Kiai Ma’ruf, Sragen. Ketika berceramah di banyak kota beliau acap kali membawakan tembang terbarunya sebagai break mauidzah hasanahnya. Ini menjadikan para pendengar tidak jemu sehingga apa yang disampaikan mudah masuk dan diterima.

Dalam sebuah ceramahnya, Alm. Gus Ishom, kiai muda alumnus Lirboyo ini tak lupa menyisipkan syair indah. Di hadapan para santri dan ribuan hadirin spontanitas ia bersyair (bahrnya senada dengan shalawat Al Badriyyah, atau lagu Dea Ananda Baju Baru Al Hamdulillah):

Ayo Belajar yang rajin
Jangan malas cuma main
Masuk pondok baru kemarin
Sudah ribut minta kawin

Masih dalam bahr yang sama, untuk memudahkan para santri menghafal bahasa Arab, maka Kiai Ahmad Subki Masyhadi terobsesi untuk mengarang kitab yang akhirnya diberi judul Syi’ir Bahasa ‘Arab  fashih, Asriyyah lan Pasaran. Kitab ini disusun sekitar 650-an bait dan merekam lebih dari 1950 kosa kata Arab-Jawa. Setiap satu baitnya tidak tentu memuat berapa kosa kata naun maksimalnya empat mufradat. Dalam mukaddimahnya Kiai asal Pekalongan ini menuturkan:

Bahasa Arab digawe syi’ir
Supoyo gampang ono ing pikir
Tumerap konco kang ngapalake
Ono ing ati dentancepake

Keberadaan syair di pesantren sangat diakui kemanfaatannya. Oleh sebab itu, santri-santri lirboyo menganggap penting menerjemahkan syair-syair yang ada di kitab Ta’lim Al Muta’allim. Maka lahirlah sebuah karya hasil usaha mereka sendiri yang judulnya diambil dari lafadz pertrama syair sayyidina Ali RA., yakni Ala la. Meskipun hanya berupa terjemahan namun ini patut diberi apresiasi.

Tak kalah kreatifnya, seorang santri ponpes Hidayatut Thullab Treggalek yang mengaku bernama Kang Fauzi menggubah syair dalam tiga bahasa sekaligus; Arab, Indonesia dan Jawa. 16 syair yang dikarangnya ini disisipkan sebagai lampiran kitab Fath al-Izar yang masih berupa fotocopy. Lebih lanjut ia bersyair:

Syi’ir iki muga dadi kunci marang
Habis gelap maka akan terbit terang
Syi’ir niki dipun karang Kang Fauzi
Wallahu yajzina binaylil fauzi

Tentu tidak dilewatkan pula karya apik yang dirancang untuk mempermudah memahami kitab kuning oleh H. Lukman Hakim pengasuh pesantren Darul Falah Jepara. Dengan metode efektif yang ditemukannya itu beliau menerjemahkan Al Fiyyah Ibn Malik dengan dua bahasa sekaligus dalam bentuk syair imajinatif. Senada dengan itu, H. Muslih Utsman, alumnus Tebuireng, menadzamkan kitab Al Ajurumiyyah dalam bahasa Indonesia sebanyak 168 bait.

Ada lagi, salah satu santri pondok Darul Hikmah Bareng, Jombang, juga menyusun kitab syair bahasa Jawa berjudul Mabadi’ Al Khattiyyah. Kitab yang menerangkan tata cara menulis Arab berkaidah ini terususun rapi  dalam bahr al-thawil. Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi karya pesantren berupa syair yang patut dihargai tinggi, seperti A. Muhtarom al-Khayyath yang menadzamkan kitab Aqidah Al Awwam dalam bahasa Jawa sebanyak 108 bait, dan lain sebagainya.

Melihat banyak santri yang kreatif dalam bersyair seperti itu, saya jadi ingin mencoba. Alhamdulillah karya saya berjudul Fath Al Barakat yang berisi 10 syair bahasa Arab dimuat majalah Misykat Lirboyo edisi Maret 2009. Selanjutnya, pada tanggal 10 Muharram 1430 H alhamdulillah saya juga berhasil mengarang Hymne Tebuireng dalam bentuk syair Arab berirama rajaz sebanyak 25 bait. Namun sayang setelah ditashih oleh KH A Mustain Syafii syair yang saya beri judul al-Fawakih al-Tabuiraniyyah itu tidak jadi dipublikasikan karena masih banyak dijumpai kesalahan.

Kesalahan yang terjadi itu memang saya akui benar adanya. Meski demikian beliau tetap memberi suport pada saya untuk bisa lebih baik dari sebelumnya. Begitu pula dosen-dosen saya di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. Ketika saya sering menulis syair dalam makalah sehari-hari para dosen banyak yang menggelengkan kepala karena dua sebab.

Yang pertama, (mungkin) agak jengkel melihat muridnya yang salah dalam bersyair. Sudah barang tentu dosen seperti ini sangat faham akan ilmu al-balaghah, al-ma’ani, al-badi’, al-‘arudl dan al-qawafi. Biasanya saya hanya bisa menjawab dalam hati: lebih baik salah dari pada tidak berbuat. Saya pribadi sangat senang jika ada yang menegur karya-karya saya, namun saya kurang setuju kalau mereka bisa menegur tanpa memberi jalan keluar untuk kebenaran.

Alasan kedua, (masih dalam ungkapan mungkin) mereka takjub dan kagum pada saya. Di tengah hiruk pikuk pesantren dan kampus perkuliahan yang disibukkan dengan berbagai urusan organisasi, administrasi, tugas ilmiah atau lainnya masih dijumpai murid yang mau melestarikan budaya sastra. Dan, bisa jadi mereka kagum karena memang belum pernah membuat syair seperti yang saya hasilkan itu.

Sebenarnya, baik atau buruk sebuah karya seseorang kita patut memberi apresiasi penuh pada mereka yang telah berhasil menghasilkan karya. Tidak selayaknya kita menyalahi begitu saja tanpa sebab, mengejek atau bahkan melarang ia berkarya. Sikap seperti inilah yang harus ditiadakan di dunia pesantren. Bahkan Ma’mun Affani, santri pondok Gontor yang menghasilkan karya sastra berupa novel itu awalnya kurang mendapat respon dari kawannya. Tetapi setelah diterbitkan sendiri ternyata tiga novelnya laris manis di pasaran.

Satu poin lagi yang terpenting, menurut hemat saya, kegunaan ilmu ‘arudl yang telah dipelajari matang di bangku pesantren bukanlah sekedar agar para santri tahu apa itu syair Arab, berapa jumlah bahr atau agar pandai melagukan syair. Melainkan agar diamalkan dan dipraktikkan. Artinya, para santri dituntut bisa menyusun syair seperti syair-syair yang telah mereka baca dan bahkan sampai hafal ratusan nadzam. Mengapa di pesantren kita tak pernah menjumpai lomba membuat syair? Yang ada hanya MTQ, Pidato atau perlombaan lainnya. Tampaknya memang tidak ada tuntutan agar para santri mampu berkarya apalagi bersyair.

Mungkin kita lupa sebuah maqalah bagus yang pernah diucapkan oleh almarhum Kiai Masduqi Lasem “Al-ilmu li al-amali, la al-ilmu li al-ilmi” (Kita mencari ilmu semata-mata hanya untuk diamalkan, bukan sekedar dokumentasi pengetahuan). Kalau kita sudah belajar ilmu ‘arudl berarti kita harus bisa menelurkan karya berupa syair. Bagi yang belum kenal ilmu ‘arudl tetap terkena kewajiban belajar.

Tulisan sederhana ini semoga dapat membawa perubahan bagi kita semua  sehingga diharapkan kelak para santri di pesantren mampu menggoreskan pena dan melahirkan karya-karya sastra indah yang merubah dunia dalam nuansa Islamiyah. Rabbana yassir wa waffiq wa a’inna ya karim! Amin

Fathurrahman Karyadi, adalah lulusan Mahad Aly Tebuireng dan peserta terpilih Akademi Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014

Dikutip : NU-Online

Pesantren, Produktifitas dan Sastra
Nilai tulisan ini
Previous Article

Mendidik anak untuk patuh kepada orang tua

Next Article

Mantan Presiden Habibie Sakit, Kondisi Masih labil

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: