Kategori
Berita Terbaru Events Umum

Ribuan Warga Hadiri Haul Akbar KHM. Damanhuri Romly

Dari situlah, perjalanan hidup putra Pendiri Pesantren Darul Ulum Jombang, dimulai. Perbedaan budaya dan bahasa antara Probolinggo dan Jombang, tak membuat beliau kerepotan untuk beradaptasi. Justru kondisi tersebut menuntut Kiai Damanhuri untuk lebih banyak bersosialisasi dengan banyak masyarakat di Probolinggo.

Genggong Nusantara I Dokumentasi Haul Akbar KHM. Damanhuri Romly I Ribuan Jamaah Padati Halaman P5 PZH Genggong

Ribuan warga hadiri Haul Akbar KHM. Damanhuri Romly yang dilaksanakan di Area P5 PZH Genggong pada Rabu (11/01/2022) Malam. Meski ramai, acara ini berjalan penuh khidmat dan tentram.
Haul kali ini merupakan haul ke-22. Beliau wafat pada 18 Jumadil Ula 1422 Hijriyah, bertepatan dengan 8 Agustus 2001 dalam Kalender Masehi.
Banyak pelajaran penting yang dapat dipetik dari kisah dan perjalanan hidup KH. Muhammad Damanhuri Romly. Selain dikenal memiliki pribadi lemah lembut, ulama kelahiran Jombang ini dikenal mudah bergaul dengan semua orang tanpa pandang bulu.
KH Muhammad Damanhuri Romly, atau yang biasa dikenal dengan julukan Kiai Damanhuri, lahir di Jombang, pada Senin Kliwon, 6 Jumadil Ula 1365 Hijriah. Bertepatan dengan 8 April 1946 Masehi.
Beliau merupakan putra dari pasangan Nyai Khodijah bin KH Luqman Suwaru Mojowarno Jombang dan KH Muhammd Romly Tamim bin KH Tamim Irsyad, pendiri sekaligus Pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang.

Genggong Nusantara I Dokumentasi Haul Akbar KHM. Damanhuri Romly I Gus dr. Haris saat menyampaikan sambutan

Kiai Damanhuri ini rupanya juga sangat mencintai pendidikan. Meski hidup dan dibesarkan di lingkungan pesantren yang pekat dengan ajaran agama, Kiai Damanhuri tidak pernah alergi pada pendidikan dan pengetahuan umum.

Terbukti, sosok yang selama hidupnya mengasuh ratusan santri yatim piatu dan kurang mampu ini, menyandang gelar sarjana di salah satu kampus Malang, Jawa Timur. Menikah dengan Ning Sus, Menetap di PZH Genggong Tak lama setelah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, kiai dengan lima bersaudara itu akhirnya menikah dengan putri dari KH. Hasan Saifouridzal, Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, yakni Nyai Hj. Diana Susilowati atau yang akrab dipanggil Ning Sus.

Sejak pernikahan yang berlangsung pada 1973 itu, KH Damanhuri pun menetap dan hidup bersama di lingkungan PZH Genggong, Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.
Dari pernikahan itu, Kiai Damanhuri dan Nyai Susilowati dikaruniai tiga buah hati. Yaitu Gus dr. Muhammad Haris Damanhuri (Gus Haris), Gus Irsyad Syamsuddin, dan Gus Lukman Qoyduddin Hasanal Bolkiyah.

Genggong Nusantara I Dokumentasi Haul Akbar KHM. Damanhuri Romly I Ibu Nyai Hj. Diana Susilowati Beserta Keluarga

Dari situlah, perjalanan hidup putra Pendiri Pesantren Darul Ulum Jombang, dimulai. Perbedaan budaya dan bahasa antara Probolinggo dan Jombang, tak membuat beliau kerepotan untuk beradaptasi. Justru kondisi tersebut menuntut Kiai Damanhuri untuk lebih banyak bersosialisasi dengan banyak masyarakat di Probolinggo.

Berbekal pengetahuan dan kepribadiannya yang lemah lembut, Kiai Damanhuri dengan cepat disukai banyak kalangan. Kelembutan hati dan tutur kata yang lemah lembut itu membawa Kiai Damanhuri diterima di berbagai kelompok masyarakat.

Tak heran jika beliau ia dikenal masyarakat sebagai sosok yang mudah bergaul dengan siapapun tanpa pandang bulu. Kiai Damanhuri mudah dekat dengan siapapun, baik itu para kiai, pejabat, pengusaha ataupun rakyat kecil di pelosok-pelosok desa.

Hal ini membuat Kiai Damanhuri diterima dan dicintai oleh banyak orang. Salah satu sifat yang sangat menonjol darinya adalah sifat rendah hati, pemaaf dan pemurah.

Genggong Nusantara I Dokumentasi Haul Akbar KHM. Damanhuri Romly

Kiai Rendah Hati dan Pemurah
Pernah suatu Ketika, sepulang dari Majelis Khususiyah di daerah Jember, Kiai Damanhuri berpapasan dengan seseorang yang terlihat memprihatinkan di pinggir jalan. Pakaiannya yang compang camping, dan kondisi fisik yang tak karuan itu membuat Kiai Damanhuri menghentikan laju kendaraannya.
Kemudian keluar dari mobil yang dikendarainya, dan menghampiri orang tersebut. Tanpa pikir panjang, beliau langsung mengeluarkan seluruh uang yang ada di kantong bajunya, dan menyerahkannya pada orang tak dikenal tersebut. Kiai Damanhuri pun pulang ke rumah tanpa membawa sepeser uang pun.
Keadaan ini tak hanya terjadi sekali atau dua kali saja. Khadim (julukan santri yang mengabdi, Red) yang selalu bersama beliau, menjadi saksi keanehan itu terulang berkali-kali. Tak hanya di sekitar jalanan Probolinggo, tapi juga banyak terjadi di luar Probolinggo.

Mendirikan Pondok Damanhuri Romly Selama hidup di Bumi Rengganis ini, Kiai Damanhuri juga banyak aktif di berbagai organisasi dan kelembagaan.

Genggong Nusantara I Dokumentasi Haul Akbar KHM. Damanhuri Romly

Di PZH Genggong, Kiai Damanhuri antara lain pernah tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Pendidikan Pesantren Zainul Hasan, Kepala MA Zainul Hasan, dan Ketua STIH Zainul Hasan.
Akan halnya sang ayah, Kiai Damanhuri juga tak jauh dari tarekat. Beliau pernah menjadi Ketua Jam’iyah Ahlit Thariqah Muktabarah Indonesia atau JATMI berdasarkan hasil Muktamar ke-VII JATMI di Pondok Gede Jakarta, 10-13 September 1998.

Dari padatnya aktifitas itu, beliau sempat mendirikan dan mengasuh ratusan santri anak-anak yatim piatu dan fakir miskin bersama Nyai Hj. Diana Susilowati. Hingga kini pesantren itu pun masih berdiri tegap dengan nama Pondok Damanhuri Romly. (Kak)

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Exit mobile version