Habib Muhammad Alhabsy: Kekasih Allah dijamin hidupnya, Mau Jadi Wali?

Tidak ada Komentar Share:

GENGGONG : “Kekayaan belum tentu membawa kenikmatan hidup, Pangkat tinggi pun belum tentu menjamin kenikmatan hidup, Yang mendapatkan kenikmatan hidup itu hanyalah satu, yaitu menjadi kekasih Allah,” begitulah petikan tausiyah Habib Muhammad Alhabsy, Solo di acara Haul almarhum KH. M. Damanhuri Romly pada Rabu malam (12/2/2020) di halaman P-5 Pesantren Zainul Hasan Genggong.

Cucu Habib Ali Bin Muhammad Al Habsy Solo menegaskan bahwa para kekasih Allah dijamin hidupnya tidak aka nada ketakutan dan kesedihan serta kekhawatiran dalam hidup karena mereka memiliki keimanan yang kuat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Menurut beliau, pangkat tinggi pun kalau tidak tambah iman maka setiap harinya akan selalu khawatir, khawatir pangkatnya jatuh semakin tinggi pangkat maka musuh semakin banyak, makanya semakin tinggi pangkat belum tentu tenang.

“Kalau menjadi wali modal ilmu harus ada, jangan sampai tidak senang mencari ilmu, masuk surga pakai ilmu. Juga harus ada guru, cari guru yang benar. Guru yang bisa mendekatkan diri kepada Allah,” terangnya.

Sementara K.H. Agoes Ali Mashuri, juga memberi tausiah di acara Haul almarhum K.H. M. Damanhuri Romly dan segenap para pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong serta segenap pendiri Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang.

Gus Ali (sapaan akrabnya-Red) menegaskan bahwa barangsiapa hidup untuk orang lain pasti melelahkan, tapi ia hidup dan mati menjadi orang besar matipun menjadi orang besar.

“Barangsiapa orang yang dimasa hidupnya suka mendoakan orang yang meninggal, niscaya kalau meninggal nanti banyak orang yang mendoakan. Barangsiapa orang dimasa hidupnya tidak mau mendoakan orang yang telah meninggal , jangan menyalahkan orang lain kalau meninggal nanti tidak ada yang mendoakan,” terang Pengasuh Pesantren Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo.

Penulis buku Suara Dari Langit juga menegaskan bahwa Sahabat sejati adalah orang yang selalu mengerti, mau mendekat dan membantu tatkala dirimu dirundu kesulitan dan kesusahan. “Orang yang makan bersamamu itu belum tentu sahabatmu, sahabatmu yang sejati adalah orang yang mengerti, orang yang mau mendekat, orang yang mau membantu tatkala dirimu dirundung kesulitan,”pungkasnya. (Dra)

Previous Article

Sulap Nasi Basi Menjadi Bahan Bakar Kendaraan, 3 Santri Genggong ini Raih Gold Medal dan Beasiswa 75 Juta Rupiah

Next Article

Santri SMA Unggulan Haf-Sa Raih Juara Speech Tingkat Jatim di Jombang

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: