Indonesia Harus Merdeka Seutuhnya

Tidak ada Komentar Share:
Pengibaran pendera di pimpin oleh KH. Hasan Naufal
Pengibaran pendera di pimpin oleh KH. Hasan Naufal

GENGGONG – Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, juga tak mau ketinggalan dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-71. Rabu, (17/08/2016), ratusan santri menggelar upacara bendera di lapangan P5 Pesantren Zainul Hasan.

Ratusan santri hadir dengan mengenakan seragam khas sekolah masing-masing. Sebelum upacara dimulai pukul 08.00 WIB, acara ini diawali dengan geladi bersih selama sekitar 20 menit. “Kegiatan ini kita lakukan setahun sekali dan sacral. Karena itu, perlu kita geladi resik untuk menghindari kesalahan-kesalahan,” ujar pembawa acara, Bambang Dwi, melalui pengeras suara.

Saban tahun, pesantren asuhan K.H. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah ini memang istiqomah menggelar upacara bendera saban 17 Agustus. Tahun ini, upacara diikuti seluruh santri putra dan sekitar 30 santri putri pilihan. Peserta upacara berasal dari seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Pesantren Zainul Hasan

Di antaranya, ada SD Zainul Hasan (Zaha), Madrasah Diniyah, SMP Zaha, MTs Zaha, SMA Zaha, MA Zaha, SMA Unggulan Haf-Sa, MA Model Haf-Sa, SMK Haf-Sa, dan sejumlah mahasiswa Inzah dan Stikes. “Mereka terbagi dalam 5 peleton,” ujar Bambang Dwi.

Barisan santrtri berpakaian menyesuaikan dengan lembaga masing-masing
Barisan santrtri berpakaian menyesuaikan dengan lembaga masing-masing

Tak hanya para santri, para guru dan pengurus pesantren juga hadir dalam acara ini. Bersama mereka ada juga K.H. Moh. Hasan Naufal yang bertindak sebagai pembina upacara. Serta, Non Hassan Ahsan Malik yang bertugas memimpin doa.

Ditemui usai upacara, K.H. Moh. Hasan Naufal mengatakan, generasi bangsa harus meneladani para pejuang bangsa yang penuh inspiratif dan ikhlas. Menurutnya, para pahlawan tidak mengharapkan dihormati, dimuliakan, dan tidak pula ingin dimakamkan di pemakaman taman pahlawan. “Yang mereka inginkan hanya tiga hal. Yakni, harapan, rasa cinta, dan keyakinan,” ujar kiai yang masih sering dipanggil dengan pangilan Non Boy tersebut.

Menurutnya, para pejuang bangsa memiliki cinta tanah air. Dan, rasa cinta inilah yang menjadi wasilah cinta mereka kepada Allah SWT. “Mereka memiliki harapan kedepan bahwa bangsa ini berdiri tegak merdeka seutuhnya dan keyakinannya timbul pada saat banyaknya tekanan dari penjajah,” ujar kiai yang juga kepala MTs Zaha itu.

Non Boy berharap, generasi bangsa bisa terinspirasi oleh semangat para pahlawan yang telah gugur di medan perang. “Semestinya ini menjadi inspirasi bagi kita. Bahwa, di tengah-tengah tekanan budaya asing yang masuk ke Indonesia, kita tidak melupakan cinta dan harapan, bahwa kedepan Indonesia tidak hanya merdeka secara dzahir. Bagi kita kemerdekaan adalah kemerdekaan yang utuh dari atas sampai bawah, dari luar sampai kedalam,” tegasnya.

Sedangkan, Non Alex, sapaan sehari-hari Non Hassan Ahsan Malik mengatakan, kita harus selalu ingat bahwa, untuk menjadi negara yang besar, harus mengenang jasa para pejuang dan selalu menjaga kemerdekaan. Terutama, menjaga dari penjajah baru yang sudah mulai masuk ke negara ini.

Menurut kepala MA Zaha itu, kini penjajah itu bukan berupa tentara yang masuk memanggul senjata. Tapi, lebih pada penjajahan aqidah, moral, dan ekonomi. “Hari ulang tahun Republik Indonesia ke-71 ini mengajarkan kita untuk selalu waspada. NKRI harga mati,” ujarnya. (san/mfd)

Previous Article

Bersalawat sambil Kibarkan Merah Putih

Next Article

Muslimat NU Kota Malang Silaturrahmi Ke Pesantren Zainul Hasan

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: