Muslimat NU Kota Malang Silaturrahmi Ke Pesantren Zainul Hasan

Tidak ada Komentar Share:
Non Hassan Ahsan Malik sedang memberikan penjelasan tentang pesantren zainul hasan kepada tamu muslimat
Non Hassan Ahsan Malik sedang memberikan penjelasan tentang pesantren zainul hasan kepada tamu muslimat

GENGGONG – Muslimat NU Kedung Kandang, Malang datang ke Pesantren Zainul Hasan. Sabtu, (13/08/2016). Acara ini adalah agenda rutinan badan otonom NU yang dihuni komunitas para ibu-ibu nahdliyah. Mereka tiap tahun mengadakan kunjungan ke beberapa tempat, dan di tahun ini kunjungannya di tambah ke Genggong.

Menurut ketua rombongan, biasanya kunjungan tahunan ini ke Gus Ali, Krian, Pasuruan, Mentri Sosial, Khofifah Indar Parawansa dan di lanjut ke pesantren Zainul Hasan. Agenda silaturrahmi ke Pesantren Zainul Hasan, ramah tamah dengan pengasuh, ziarah kubur. “Acara ini adalah agenda tahunan, dan di Genggong kali pertama,” aku ibu Hasanah.

Rombongan lima bus ini diterima oleh Non Hassan Ahsan Malik, dan beberapa asatidz pesantren pada pukul 17:30 di Aula Pesantren. Non Alex -sapaan sehari-hari Non Hassan Ahsan Malik- dalam sambutannya, mengaku mendapat amanah dari KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alalloh untuk menerima tamu Muslimat NU, karena beliau ada udzur dalam menyambut tamu tersebut. “Sebetulnya kiai Mutawakkil siap, Tapi ada undangan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan,” jelasnya.

Non Alex banyak bercerita tentang profil pesantren Zainul Hasan, menurut beliau pesantren Genggong didirikan pada tahun 1839 H oleh KH. Zainal Abidin, beliau menjadi pengasuh pesantren selama 26 tahun. “Nama pesantren ini diambil dari sebuah nama bunga yang banyak digunakan untuk acara mantenan,” ujarnya..

Kemudian kiai Zainal Abidin memiliki menantu yang bernama KH. Moh. Hasan, beliau lahir pada tahun 1840 M. Dulu kiai Hasan berguru pada Kiai Kholil, Bangkalan, kemudian beliau melanjutkan menimba ilmu di Makkah. “Dan pondok ini dipasrahkan ke kiai Hasan sepuh oleh kiai Zainal Abidin,” tuturnya.

Lanjut Non Alex, kiai Hasan berdawuh bahwa kelak yang akan melanjutkan pondok ini adalah Ahsan (nama Kiai Hasan Saifouridzall di masa kecil, red). Pondok Genggong berubah nama menjadi APIG. Kemudian oleh kiai Hasan Saifouridzall digagas menjadi Pondok Zainul Hasan Genggong, “Beliau mulai meminpin pondok ini tahun 1953-1991, dan dilanjut oleh Kiai Mutawakkil hingga saat ini,” ungkapnya.

Diakhir sambutannya Non Alex juga menjelaskan manfaat ziarah kubur pada para wali. Beliau menilai salah satu fadilah ziaroh adalah mendapatkan keberkahan dari para wali yang diziarohi karena para wali itu hidup. “Semoga adanya silaturrahmi ini mendapat barokah dan semoga jenengan diberikan keselamatan oleh Allah, qobul hajatnya,” pungkasnya. (Mfd)

Previous Article

Indonesia Harus Merdeka Seutuhnya

Next Article

DR. Syekh Muhammad Bin Ismail Makah hadiri Haul Akbar KH. Moh. Hasan

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: