PT. Nalco Water Serahkan Bantuan Teknologi Pengolahan Air Mineral pada Acara Haflatul Imtihan

Tidak ada Komentar Share:
penghargaan kepada para santri tang berprestasi
penghargaan kepada para santri tang berprestasi

Genggong- Haflatul Imtihan adalah hajatan akbar tahunan, yang menjadi ciri khas pondok pesantren pada umumnya. Acara ini dirayakan sebegai bentuk rasa syukur atas ilmu yang telah diperoleh santri selama satu tahun, tak terkecuali Pesantren Zainul Hasan Genggong, kecamatan Pajarakan kabupaten Probolinggo. Pesantren ini menggelar Haflatul Imtihan yang ke-84, Minggu. (21/5/2016). di halaman pesantren setempat.

Acara dimulai pada pukul 20.00 WIB, pemberian hadiah pada santri-santri prestasi, dan pentas seni islami santri yang disaksikan ribuan jamaah dari berbagai daerah sebagai acara pembuka. Tampak hadir seluruh keluarga besar pesantren, para habaib, pejabat pemerintah, dan kiai Marzuki Mustamar, pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Rasyad, Malang sebagai tamu khusus, yang diundang langsung oleh ketua yayasan, serta tamu istimewa, bpk. I Wayan Sujana, managing Dirctor Ecoleb Indonesia.

Dalam acara ini, PT. Nalco Water memberikan hadiah penghargaan uang tunai, jutaan rupiah pada santri pemenang karya ilmiah, bertema “Konservasi Sumber Daya Air bagi Masyarakat” yang diadakan oleh perusahan tersebut. Tidak hanya memberikan penghargaan pada santri, PT. Nalco Water melalui bpk. I wayan Sujana secara simbolik memberikan alat pengolah air Ecoleb, yang diterima langsung oleh ketua Yayasan, K.H. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH., MM.

Dalam sambutannya, bpk. I Wayan menyampaikan rasa bahagianya karena disambut secara istimewa di pesantren ini, banyak penampilan-penampilan santri di atas pentas yang cukup menghibur hatinya. Beliau membuka ruang untuk santri yang ingin belajar tentang teknologi air. “24 jam saya siap membantu santri belajar teknologi air,” singkatnya.

Menaging Ecoleb Indonesia ini, berharap pesantren dapat merawat dan menjaga bantuan teknologi pengolah air yang telah diberikannya, sehingga dapat dimanfaatkan oleh santri dengan baik. “Semoga bernilai berkah, dan terus dirawat agar tetap berfungsi,” pesannya.

Sementara itu, K.H. Marzuki dalam pidatonya banyak menjelaskan tentang paham aswaja yang telah dianut para ulama pendahulu. Menurut beliau, banyak guru dan dosen mengakses ilmu dari internet lalu diposting dan disebarkan pada pesarta didiknya, tanpa mengetahui profil pengarangnya.

Kiai Marzuki mempertanyakan kredibilitas seorang pengarang, apakan pengarang ilmu-ilmu yang beredar di internet tersebut rajin melaksanakan ibadah, berpaham aswaja, belajar ilmu pada ulama, kebenaran terjemah teks kitab-kitab salaf, bahkan mempertanyakan kejelasan jenis kelaminnya. “Apakah dia penganut Aswaja, atau Wahabi, Yahudi atau Nasrani. Tidak jelas,” tegasnya.

Ulama asal Malang ini menilai bahwa ilmu yang di dapat dari internet sanadnya terputus, karena mereka tidak belajar langsung pada gurunya. Padahal pada umumnya, seorang guru pasti belajar pada gurunya, dan seterusnya sampai bersambung pada Nabi Muhammad, SAW. “Sanadnya mungkothi’ (putus) alias tidak bersambung pada Rasulullah,” tandasnya.

Beliau menambahkan, belajar yang benar adalah belajar dari islam untuk islam, dan pesantren merupakan tempat yang paling tepat sebagai benteng islam dan memperdalam ilmu-ilmu agama. Beliau memberikan contoh K.H. Hasyim Asyari dengan keilmuannya, pucuk pimpinan NU ini bisa ‘ngadili’ semua Yahudi, Salibis dan lain-lain. “Sulit sekali mencari dosen yang hafal ribuan hadits, tapi banyak kiai yang hafal ribuan hadits, maka selayaknya para kiailah yang berhak mendapat gelar profesor,” pungkasnya.

Previous Article

Menjaga Tradisi Warisan Sesepuh Pesantren

Next Article

Lulus, Pilih Ziarah Makam Wali

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: