Damai Indonesiaku: Menyimak Ceramah Ustadz YM di Pesantren Genggong

Tidak ada Komentar Share:
Ustadz YM sedang Memberikan Ceramah
Ustadz YM sedang Memberikan Ceramah

Genggong-(19/10) terik matahari siang itu, cukup menyengat. Namun para santri putri rupanya cukup bersemangat  untuk mendengarkan ceramah da’i muda kondang Yusuf Mansur yang saat itu hadir di Ponpes Genggong. Selain itu, yang tak kalah penting bagi mereka, ceramah tersebut disiarkan live di TV One, TV swasta berbasis Nasional.

Tak tanggung-tanggung, acara tersebut berlangsung selama 2 jam. Selama acara itu berlangsung, yang  sedikit “apes” adalah sebagian santri putri. Mereka harus berpanas-panasan di bawah terik matahari,  persis di halaman Masjid Al-Barokah, Ponpes Genggong. Selain tanpa terop, acara itu dimulai siang hari.

Alhasil, pemandangan yang paling kentara adalah para santri putri yang sedang mengikuti acara, plus mengipasi dirinya sendiri. Meski begitu, mereka tetap antusias. Apalagi selama acara berlangsung, sorot kamera bergerak ke berbagai sudut arah. Para santri tentu tak ingin tampil dengan wajah lesu. Sehingga meski kepanasan, tetap saja wajah mereka sumringah.

Berbeda dengan santri putri, santri putra sejak awal sudah stand by di dalam Masjid Al-Barokah. Para santri  dan hadirin, memadati tiap sudut halaman masjid tersebut. “Alhamdulillah, sejak saya pertama datang ke  Ponpes Genggong, saya menganggap ponpes ini termasuk salah satu yang paling keren di Indonesia,” kata YM, mengawali acara yang dimulai pada pukul 13.00 ini.

Joke (guyonan) segar ala YM pun meluncur beberapa kali dalam mukadimah acara di ponpes yang berlokasi di  Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan ini. Ribuan santri yang memadati halaman Masjid pun beberapa kali tersenyum simpul mendengarkan ceramah YM. Sesekali pula mereka menyusulkan tawa dengan gemuruh aplaus, tiap kali YM menyinggung kelebihan kaum pesantren.

Pada sesi berikutnya, ceramah YM pindah ke bagian tengah Masjid. Ia didampingi seorang santri, Syadidul Kirom. Pada 14-18 Agustus lalu, santri tersebut meraih medali perunggu grade IX dari kejuaraan Internasional Matematika World Mathematic Invitational (WMI) di Seoul, Korea Selatan.

“Bapak, Ibu, Pemirsa. Ini seorang santri, bukan hanya tahu ilmu fiqh, bukan cuma ilmu agama. Tapi juga jago matematika, bahkan juara di Korsel. Ini hasil didikan ponpes,” tuturnya disambut aplaus para santri serta masyarakat sekitar Ponpes yang ikut menonton acara tersebut.

Selain Syadidul Kirom, ada lagi seorang santri Genggong yang dalam waktu dekat akan berangkat ke Beijing. Santri yang tak disebutkan namanya itu akan berangkat mewakili Indonesia, juga dalam lomba Matematika Internasional. “Subhanallah, ini patut dibanggakan,” tutur YM dalam segmen ini.

Ceramah yang disampaikan YM, tak selalu monoton. Di tengah masjid, ia ditemani papan putih sebagai alat peraga yang membantunya menyampaikan materi ceramah. Termasuk ketika ia menceritakan proses Nabi Ibrahim AS yang menginginkan kelahiran seorang anak.

“Ada sebuah proses yang dijalani Nabi Ibrahim. Beliau langsung meminta kepada Allah. Bukan meminta kepada dukun, bukan kepada dokter. Setelah menjalani proses panjang dan menguras kesabaran, barulah lahir Ismail,” terangnya sambil menuliskan sebuah ayat, dan ilustrasi di papan tersebut.

Karenanya kata YM, segala sesuatu yang diharapkan, harus diminta kepada Allah. Meski demikian, tak semua permintaan makhluk, dikabulkan Allah. “Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan. Namun memberikan apa yang kita butuhkan,” tuturnya disambut anggukan para santri.

Sebelumnya, YM pernah berceramah di Ponpes berusia 174 tahun ini. Yakni saat Haflatul Imtihan ponpes, 15 hari jelang Ramadan lalu. Kehadirannya Sabtu lalu, disambut cukup antusias para santri dan para pengasuh ponpes. Masyarakat sekitar juga turut hadir mengikuti acara.

Sementara Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah, menyambut baik kedatangan kali kedua YM secara resmi ke ponpes tersebut. Apalagi kali ini disiarkan secara live.

“Sehingga masyarakat luar (pesantren) tahu apa saja kelebihan pesantren. Bahkan ada yang menyebut sarang teroris. Itu jelas distorsi,” tegas ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur ini. (arm)

Sumber: Kabar Probolinggo

Previous Article

Refleksi Tahun Baru Hijriah; Genggong Bershalawat

Next Article

Damai Indonesiaku

Artikel Lainnya

%d blogger menyukai ini: