PUASA MENCIPTAKAN MANUSIA BERKUALITAS

Tidak ada Komentar Share:

Oleh: Edi Kurniawan Farid

menunggu-waktu-buka-puasa-di-masjid-kemayoran-surabaya-_120803113048-437

Sebagai hamba Allah swt. manusia diwajibkan untuk melaksanakan segala hal sesuai dengan kehendak penciptanya. Sesuai dengan tujuan awal penciptaan manusia itu sendiri, yakni mengabdikan dirinya pada Allah swt. Namun di kehidupan ini, ada banyak faktor yang selalu ingin merubah dan merusak tujuan awal penciptaan manusia sebagai hamba. Yakni syaitan dan sekutunya. Selama kehidupan manusia belum berakhir niscaya syaitan dan sekutunya akan selalu menuntun pada keburukan.

Menarik kita kaji ulang pandangan Prof. Dr Quraish Syihab mengenai kehidupan. Menurutnya, hidup ialah pertemuan antara kebaikan dan keburukan. Inilah tantangan terberat manusia sebagai mahluk yang diciptakan dengan kondisi paling baik. Satu-satunya mahluk yang diberi anugerah berupa akal, hati dan nafsu. Jika seseorang mampu mengendalikan nafsunya, dengan mengoptimalkan hati dan akalnya, maka Allah swt. senantiasa akan menunutunnya pada kebaikan. Namun jika sebaliknya, dorongan nafsu lebih dominan memainkan peran hingga menghilangkan fungsi hati dan akalnya, maka dia akan berada pada keburukan.

Puasa sebagai kendali

Salah satu bonus yang dihadiahkan Allah swt untuk hambanya yakni ibadah puasa. Secara bahasa puasa berasal dari kata arab shoum atau shiyam yg berarti menahan atu meninggalkan. Secara istilah, puasa ialah menahan segala hal yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat (ibadah) hanya karena Allah. Tentunya dengan puasa, nafsu yang selalu hadir membayangi diri diperkecil kesempatannya untuk menguasai hati dan akal. Hal ini dikarenakan besarnya substansi positif yang terkandung didalam ibadah puasa.

Az-zarqani mengatakan bahwa puasa memiliki tiga dimensi sekaligus. Tiga dimensi utama tersebut adalah sisi kejiwaan (ruhiyyah; religion psychological) yang menjadi kajian inti para pakar keagamaan dan kesufian. Dimensi ini bersifat transenden, privat, dan tidak tekait denganhubungan sosial (Ibnu Khuzaimah No. 1.896)

Kedua, dimensi mental (akhlaqiyyah) yang merupakan lahan garapan spesialis moral. Aspek moral puasa ini dapat dengan mudah kita pahami karena dalam puasa terdapat pendidikan dan pembiasaan kedisiplinan, ketaatan, penerimaan secera lahir batin aturan-aturan yang telah ditetapkan, kepatuhan kepada pemimpin, kesabaran, ketahanan, dan perlawanan terhadap kuasa nafsu, penguatan dorongan kepada perbuatan baik, seperti sedekah, dan sebagainya. Dimensi kedua inilah yang menjadikan puasa memiliki nilai sosial.

Terakhir, puasa memiliki dimensi materi kesehatan. Dimensi kesehatan inilah yang sedang ramai diperbincangkan sebagai bentuk kemukjizatan Al Qur’an yang telah terungkap seiring laju perkembangan ilmu pengetahuan modern. Pengetahuan modern membuktikan bahwa puasa tidak berbahaya bagi tubuh selama dijalankan sesuai dengan koridor syriat. Bahkan, puasa dapat memperbaiki kualitas fisis, medis, dan biologis seseorang.

Puasa sebagai model

Dengan tiga dimensi yang dimiliki puasa, tidak berlebihan jika kita katakan puasa sebagai cara yang sehat secara spiritual, medikal, sosial, dan penuh dengan hikmah ketuhanan untuk mewujudkan manusia yang berkwalitas. Bukan hanya manusia yang mengedepakan kecakapan raga, tapi menghasilkan insan yang unggul pula jiwanya. Manusia yang mampu berbuat kebaikan dengan tulus, ikhlas bukan karena motivasi kedudukan atau kepentingan.

Selama ini, masih banyak manusia yang berbuat baik jika ada embel-embel kepentingan atau kedudukan. Ibadah puasa mengajarkan kita bagaimana berbuat ikhlas, tulus tanpa pamrih apapun. Puasa menahan lapar dan haus dari pagi hingga terbenam matahari dilakukan hanya mengharap ridlo dari Allah swt. Seyogyanya nilai esensial yang terkandung dalam ibadah puasa tidak hanya diaplikasikan pada bulan-bulan puasa saja. Namun segala perbuatan, pekerjaan dan aktivitas yang dikerjakan mampu dijalani dengan ketulusan layaknya puasa.

Semoga momen ibadah puasa ramadhan yang juga bertepatan dengan peringatan hari kemerdekan Indonesia ke- 68 mampu menciptakan masyarakat patriotik. Tidak hanya bisa hidup dengan hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa ingin tahu kesulitan orang lain dan negaranya. Puasa mampu menghidupkan rasa kepedulian terhadap orang lain dan negaranya. Dengan merasakan dahaga dan lapar di siang hari, puasa mengajak kita merasakn penderitaan rakyat miskin. Ini merupakan sebuah pendidikan yang sangat penting sebab masa depan mereka berada dipundak kita.

Mari kita jadikan puasa sebagai medium pembangun jiwa. jadikan subtansi positif yang terkandung dalam ibadah sebagai model kerja dan aktifitas kita. Sehingga sikap amanah, ketulusan dan kepedulian yang tumbuh subur di bulan-bulan puasa tidak berhenti dengan brakhirnya bulan ramdhan, tetapi tetap mengakar dan senantiasa diaplikasikan didalam kehidupan sepanjang masa. Akhirnya puasa mampu menciptakan pribadi humanis inklusif demi terwujudnya kebaikan dunia dan akhirat (shalah ad dunya wal akhirat).

Nilai tulisan ini
Previous Article

Pemerintah Resmi Tetapkan 1 Ramadhan 1434 H Jatuh Pada Rabu 10 Juli 2013

Next Article

Puasa Membentuk Struktur Otak Baru

Artikel Lainnya

%d blogger menyukai ini: