Sheikh Muhammad Abu Ali bin Hilal Al-Makiyy: Semangat Belajar Dan Jauhi Maksiat

Tidak ada Komentar Share:

Genggong – Pesantren Zainul Hasan kedatangan tamu istimewa dari Makah al-mukarromah, beliau adalah Sheikh Muhammad Abu Ali bin Hilal. Rombongan Sheikh hadir di Masjid Al-Barokah Gengong ba’da shalat Isya’, yang sejak sore disambut para santri dengan berpakaian serba putih dan iringan shalawat Nabi di sepanjang jalan raya pesantren, Selasa (18/6/2013).
Kunjungan ini bertujuan menyambung ikatan silaturrohim ke pesantren-pesantren di Indonesia dan menyebar ilmu agama termasuk di pesantren Genggong yang beliau anggap Pesantrean almubarok karena termasuk pesantren tertua di tanah air. “Syukur karena robuthatul ilmi, saya bisa sampai ke Ma’had yang tidak diragukan lagi keberkahannya, karena Ma’had ini sudah lama berdiri,” ungkapnya.
Beliau juga mendoakan agar para muassis Pesantren mendapat limpahan pahala, utamanya pada pendiri pertama Pesantren. Dalam pidatonya yang berdurasi sekira 1 jam, Sheikh memberi semangat kepada para santri agar berjuang dalam thalabul ilim dengan menggalakkan hafalan matan kitab dan Al-qur’an.
Para santri diharapkan lebih bersabar di pesantren dan tidak mudah menyerah pada kesulitan, seperti ketekunan imam Ibnu Hajar Al-Atsqollani. “Beliau Belajar kitab Alfiyah sampai 20 namun belum bisa menghafalkannya. Baru ketika sampai ke 21 kalinya, Imam Ibnu Hajar diberi kefahaman dengan men-syarahi kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam bentuk nadzom,” jelasnya.
Syekh Muhammad menambahkan “Berhati-hatilah kalian dalam berteman, karena teman yang jelek akan merusak  masa depan, dan jauhilah maksiat dalam mencari ilmu”. Pergaulan sangat berpengaruh sekali pada aktifitas keseharian santri, jika santri salah pilih taman, maka tak menutup kemungkinan masa depan akan dikorbankan.
Ulama kelahiran Makah  ini juga perpesan, supaya santri menjauhi maksiat agar mudah menghafal ilmu. Ia mengutip syair dari kitab Ta’limul Muta’allim yang menceritakan pengaduan Seorang santri kepada gurunya, kiai Waki’, mengenai sulitnya menghafal.  Kemudian kiai Waki’ menyarankan agar sang santri menjauhi maksiat karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya ilmu Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat. (mfd/rsl)

Nilai tulisan ini
Previous Article

Dr. Izzat Jaelani: Perlu Perubahan dan Inovasi

Next Article

Pengajian Thoriqoh Naqsabandiyah: Mengajak Para Ikhwan Meningkatkan Kualitas Ibadah

Artikel Lainnya

%d blogger menyukai ini: